✔ Bukan buku motivasi
✔ Bukan teori kampus
✔ Ini sistem berpikir untuk pemimpin yang memikul risiko nyata
CEO · Founder · Business Owner · Senior Manager · Decision Maker
✔ Mengurangi risiko keputusan yang salah
✔ Memahami cara berpikir strategis di kondisi tidak pasti
✔ Memimpin dengan sistem, bukan spekulasi
✔ Menjadi kapten yang benar-benar memegang kendali
Dalam dunia penerbangan, blind flying adalah kondisi paling berbahaya.
Bukan karena pilotnya tidak berpengalaman,
tetapi karena terbang tanpa instrumen yang akurat.
Masalahnya, hal yang sama terjadi di bisnis.
✔ Terlalu percaya pada pengalaman lama
✔ Mengambil keputusan berdasarkan intuisi semata
✔ Merasa “aman” karena bisnis masih berjalan
✔ Tidak sadar risiko sudah menumpuk di depan
Bisnis jarang runtuh karena satu kesalahan besar.
Ia runtuh karena rangkaian keputusan kecil yang tidak disadari.
Jika Anda seorang pemimpin, mungkin Anda pernah merasakan ini:
✔ Tim terlihat sibuk, tapi arah makin kabur
✔ Target tercapai, tapi terasa rapuh
✔ Keputusan makin berat, datanya makin minim
✔ Anda dituntut cepat, tapi dampaknya jangka panjang
Di titik ini, kerja keras saja tidak cukup.
Yang dibutuhkan adalah sistem berpikir yang tepat.
The Captain’s Path membantu Anda membangun instrumen kepemimpinan, seperti pilot profesional:
✔ Visi yang terukur, bukan sekadar ambisi
✔ Data sebagai radar, bukan pelengkap laporan
✔ Disiplin keputusan, bukan reaksi emosional
✔ Framework strategis, bukan feeling sesaat
✅ Cara menghindari blind flying dalam bisnis
✅ Framework pengambilan keputusan strategis
✅ Cara membaca sinyal risiko sebelum krisis
✅ Sistem menyelaraskan visi, data, dan eksekusi
✅ Pola pikir pemimpin yang bertahan di turbulensi
Bukan teori panjang.
Bukan jargon manajemen.
Semua disusun agar bisa langsung dipakai.
Banyak pemimpin hari ini yakin organisasinya sedang melaju. Kalender penuh rapat. Proyek berjalan paralel. Tim terlihat sibuk. Mesin organisasi menderu tanpa henti. Namun ada satu pertanyaan sederhana yang jarang berani dijawab dengan jujur: apakah semua gerakan ini benar-benar membawa kita ke tujuan, atau hanya membuat kita terlihat produktif?
Dalam dunia penerbangan, kondisi ini sangat dikenal. Pesawat bisa berada dalam kondisi sempurna, mesin menyala, bahan bakar terisi, kru lengkap, namun tetap tidak ke mana-mana. Ia bergerak pelan di taxiway, berputar, menunggu, berhenti, lalu bergerak lagi. Dari luar tampak aktif. Dari dalam kokpit, bahan bakar terus terbakar. Tidak ada ketinggian yang dicapai. Tidak ada jarak yang ditempuh. Hanya energi yang habis tanpa hasil.
Di dunia bisnis, situasi ini jauh lebih berbahaya karena sering disalahartikan sebagai stabilitas. Organisasi merasa aman karena “tidak jatuh”. Padahal mereka lupa satu hal: pesawat tidak diciptakan untuk diam di darat. Ia diciptakan untuk terbang. Dan organisasi yang terlalu lama nyaman di taxiway akan kalah bukan oleh badai besar, melainkan oleh pesaing yang berani lepas landas lebih dulu.
Masalahnya menjadi lebih kompleks saat kabut turun. Data tidak lagi utuh. Informasi saling bertabrakan. Tekanan datang dari berbagai arah, pasar, investor, tim internal. Di momen seperti ini, banyak pemimpin kembali mengandalkan senjata yang selama ini mereka banggakan: insting dan pengalaman masa lalu. Rasanya meyakinkan. Terasa benar. Seolah sudah pernah melewati situasi serupa sebelumnya.
Namun di kokpit, insting justru menjadi musuh paling berbahaya saat visibilitas nol. Tubuh manusia tidak dirancang untuk membaca arah di dalam kabut. Ia memberi sensasi palsu. Pilot bisa merasa pesawatnya lurus, padahal instrumen menunjukkan ia sedang menukik tajam. Jika insting diikuti, kehancuran bukan datang karena keberanian, tetapi karena keyakinan yang salah.
Fenomena ini disebut blind flying. Terbang dengan mata terbuka, tapi tanpa navigasi yang benar. Dan tanpa disadari, inilah yang sering terjadi di ruang rapat. Keputusan diambil dengan penuh percaya diri, tapi tidak selaras dengan data. Laporan yang tidak nyaman diabaikan. Angka yang bertentangan dianggap noise. Pengalaman masa lalu dijadikan pembenaran, bukan bahan evaluasi.
Yang paling berbahaya, kondisi ini jarang terasa seperti kesalahan. Justru terasa seperti “kepemimpinan yang tegas”. Hingga suatu hari, organisasi menyadari bahwa mereka sudah terlalu rendah, terlalu cepat, dan terlalu terlambat untuk mengoreksi arah.
Pertanyaannya bukan lagi apakah Anda sedang bergerak.
Pertanyaannya: apakah Anda benar-benar sedang terbang, atau hanya berputar di darat sambil menghabiskan bahan bakar?
(Di dalam buku ini, dua kondisi ini dibedah secara mendalam: bagaimana pemimpin mengenali tanda-tanda taxiway leadership, dan bagaimana membangun navigasi keputusan saat insting justru menyesatkan.)
Di balik setiap keputusan yang tampak sederhana, ada rangkaian risiko, tekanan, dan konsekuensi yang sering kali tidak terlihat dari permukaan. The Captain’s Path disusun bukan sebagai kumpulan teori kepemimpinan, melainkan sebagai manual navigasi, dipakai saat situasi tidak ideal, data tidak lengkap, dan waktu tidak berpihak.
Setiap bagian dalam buku ini merepresentasikan fase nyata yang dialami pemimpin, mulai dari kebingungan menentukan arah, tekanan saat harus mengeksekusi, hingga bagaimana bertahan ketika kesalahan sudah terlanjur terjadi.
Sebagian pembaca menemukan bahwa satu judul bab saja sudah cukup untuk membuat mereka berhenti sejenak dan berpikir, “Ini sedang saya alami.”
Dan itulah alasan buku ini disusun bertahap agar Anda tidak sekadar memahami, tetapi mampu mengambil kendali kembali.
(Fondasi mental & arah kepemimpinan)
Bab 1 — The Pilot’s Path: Visi Adalah Clearance Menuju Cakrawala
Bagaimana visi yang kabur membuat organisasi stagnan di “taxiway”. Bab ini membedah perbedaan pemimpin yang sekadar sibuk dengan pemimpin yang benar-benar siap lepas landas, serta mengapa visi bukan slogan, melainkan izin terbang menuju masa depan.
Bab 2 — Blind Flying: Melawan Ilusi Insting di Tengah Fog of War
Mengungkap bahaya terbesar pemimpin: terlalu percaya intuisi dan pengalaman masa lalu. Bab ini menunjukkan bagaimana insting tanpa data menciptakan kebutaan strategis dan membawa bisnis masuk spiral kehancuran.
Bab 3 — Antisipasi Crosswind: Menyiapkan Payung Sebelum Badai
Risiko bukan kejutan, tapi kepastian. Bab ini mengajarkan mentalitas paranoid optimist: tetap percaya diri pada visi, sambil disiplin menyiapkan rencana alternatif sebelum krisis menghantam.
Bab 4 — Strategi Flight Plan: Menghitung BBM, Waktu, dan Thrust Presisi
Mengapa strategi bukan wishlist. Bab ini membedah pentingnya perhitungan sumber daya, waktu, dan kapasitas organisasi agar ambisi tidak berakhir sebagai kehabisan energi di tengah jalan.
(Disiplin operasional & eksekusi nyata)
(Belajar dari krisis & kesalahan)
(Kepemimpinan di era AI & autopilot)
(Pemulihan, transisi, dan keberlanjutan)
Pengingat keras bahwa jika pemimpin tidak mengambil kendali, akan selalu ada orang lain yang siap menggantikan.
The Captain’s Path TIDAK cocok untuk Anda yang:
❌ Mencari motivasi kosong
❌ Ingin hasil instan tanpa berpikir
❌ Tidak siap mengubah cara mengambil keputusan
❌ Hanya ingin merasa benar, bukan benar-benar tepat
Capt M. Virda Dimas Ekaputra, S.Sos.,M.M adalah pemimpin lintas sektor dengan pengalaman di bidang penerbangan, sosial, infrastruktur, dan kesehatan. Perjalanan profesionalnya berawal dari pendidikan penerbangan di Curug, yang membentuk pendekatan kepemimpinan yang disiplin, sistematis, dan berorientasi pada ketepatan serta dampak. Pada periode 2005–2010, ia menjabat sebagai CEO Rumah Zakat, memimpin penguatan tata kelola organisasi filantropi serta memperluas dampak sosialnya secara nasional.
Selanjutnya, Virda dipercaya menjabat sebagai Direktur Utama PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati sejak November 2014 hingga akhir 2018, memimpin pengembangan dan pengelolaan bandara internasional strategis di Jawa Barat. Saat ini, ia mengemban amanah sebagai Komisaris Rumah Sakit Edelweiss, berkontribusi dalam penguatan arah strategis dan tata kelola layanan kesehatan. Di bidang akademik, ia tengah menempuh pendidikan sebagai mahasiswa doktoral Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Jawa Barat, sebagai bagian dari komitmennya pada pengembangan kepemimpinan dan keberlanjutan.
The Captain’s Path membangun cara berpikir seorang Kapten.
Buku Agenda ini membantu Anda menerapkannya setiap hari.
Buku ini dirancang sebagai alat navigasi harian untuk merumuskan prioritas, mengevaluasi keputusan, dan menjaga arah sepanjang 2026.
Disertakan gratis sebagai pendamping buku utama.
Menghabiskan waktu berbulan-bulan
Menguras energi tim
Mengorbankan peluang besar
Harga ebook ini jauh lebih kecil dibanding biaya kesalahan keputusan.
Framework kepemimpinan strategis
Checklist & sistem berpikir
Insight yang bisa dipakai berulang kali
👉 Ini bukan biaya.
Ini perlindungan bagi keputusan Anda.
The Captain’s Path tidak menjanjikan jalan tanpa badai.
Tapi ia memastikan Anda tidak terbang tanpa instrumen.
Karena dalam bisnis,
bertahan lebih penting daripada terlihat berani.